Penerapan Semitic Rhetorical Analysis (SRA) dan Ilmu Balaghah untuk mengungkap arsitektur konsentris di balik komposisi ayat dan surah Al-Qur'an.
Al-Qur'an tidak disusun secara linier seperti buku modern. Pesan terdalam justru tersembunyi di poros tengah sebuah struktur konsentris — bukan di akhir teks.
Michel Cuypers melalui Semitic Rhetorical Analysis (SRA) — metode yang diadaptasi dari analisis retorika Semit pada teks Alkitab (Roland Meynet) — menunjukkan bagaimana unit teks saling "bercermin" dalam pola A-B-C-POROS-C'-B'-A'. Baginya, struktur bukan sekadar stilistika, melainkan kunci hermeneutis yang membuka lapisan makna teologis.
Pendekatan ini diperkuat dari sisi lain oleh Raymond Farrin dalam Structure and Qur'anic Interpretation: A Study of Symmetry and Coherence in Islam's Holy Text (2014). Jika Cuypers bekerja pada satuan-satuan kecil teks, Farrin menyoroti pola makro yang berulang di seluruh Al-Qur'an — parallelism, chiasm, dan yang paling dominan, concentrism — mulai dari pasangan ayat, pasangan surah, hingga arsitektur satu surah penuh seperti Al-Baqarah yang akan dibahas pada bagian berikutnya.
Catatan akademik: SRA Cuypers diapresiasi luas (termasuk oleh Gabriel Said Reynolds), namun juga dikritik sebagian sarjana seperti Nicolai Sinai — terutama soal pemotongan unit teks yang dianggap subjektif dan pengabaian unsur sajak Al-Qur'an. Pendekatan Farrin, meski memakai sumber dan istilah berbeda, mengarah pada kesimpulan yang sejalan: Al-Qur'an memiliki koherensi struktural yang disengaja. Perdebatan soal sejauh mana pola ini konsisten di seluruh kitab masih berlangsung dalam studi Al-Qur'an kontemporer.
Ilustrasi konseptual untuk membandingkan pendekatan analisis — bukan hasil pengukuran empiris baku atau survei akademik.
Setiap unit teks Al-Qur'an memiliki peran struktural yang presisi — dari kata tunggal hingga keseluruhan kitab, setiap lapisan mengikuti logika komposisi yang sama.
Surah Al-Baqarah memiliki struktur melingkar yang sempurna. Titik poros terletak pada konsep Ummatan Wasatan (Umat Pertengahan) di ayat 143 — titik yang membelah surah menjadi dua cermin yang simetris.
A bercermin dengan A', B dengan B', C dengan C' — sementara poros di tengah berdiri sebagai pernyataan teologis utama yang tidak memiliki cermin, karena ia adalah pusat dari seluruh struktur.
SRA tidak beroperasi sendiri. Ia bersinergi dengan tiga cabang ilmu balaghah yang masing-masing memberikan lapisan verifikasi berbeda terhadap klaim struktur konsentris.
"Allah — tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak mengantuk dan tidak tidur..."
Semakin mendekati pusat, semakin dalam makna teologisnya. E (Ilmu Allah) adalah pernyataan yang tidak dapat dicerminkan — ia adalah pusat dari segala sesuatu.